Resensi Buku Kumpulan Cerpen "Semua untuk Hindia" Karya Iksaka Banu


Judul           : Semua untuk Hindia
Pengarang   : Iksaka Banu
Penerbit       : PT Gramedia Pustaka
Tahun terbit : Cetakan ketiga, November 2018
Tebal            : 154 halaman

            Semua untuk Hindia merupakan buku kumpulan cerita pendek karya Iksaka Banu. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2014. Buku ini berisi tiga belas cerita pendek merentang dari masa prakedatangan Cornelis de Houtman hingga awal Indonesia merdeka. Sebagian besar cerita yang terbit dalam buku ini telah dimuat di Lembar Sastra Koran Tempo edisi Minggu dalam beberapa kesempatan antara 2007-2012.

            Iksaka Banu merupakan penulis yang lahir di Yogyakarta, 7 Oktober 1964. Ia menamatkan pendidikannya di Jurusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Semasa kecilnya, Iksaka Banu beberapa kali mengirim tulisan ke rubrik Anak Harian Angkatan Bersenjata. Karyanya juga pernah dimuat di rubrik Anak Kompas dan majalah Kawanku. Kegiatan menulisnya sempat berhenti sampai pada tahun 2000 ia mencoba menulis kembali. Sejumlah karyanya dimuat dalam majalah Femina, Horison, dan Koran Tempo. Dua buah cerpennya yang berjudul “Mawar di Kanal Macan” dan “Semua untuk Hindia” terpilih menjadi salah satu cerita pendek terbaik Indonesia versi Pena Kencana berturut-turut tahun 2008 dan 2009. Pada tahun 2014, buku kumpulan cerita pendek Semua untuk Hindia meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa kategori prosa.

            Tiga belas cerita pendek yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Semua untuk Hindia yaitu :

1.      Selamat Tinggal Hindia
2.      Stambul Dua Pedang
3.      Keringat dan Susu
4.      Racun untuk Tuan
5.      Gudang Nomor 012B
6.      Semua untuk Hindia
7.      Tangan Ratu Adil
8.      Pollux
9.      Di Ujung Belati
10.  Bintang Jatuh
11.  Petunjuk Jalan
12.  Mawar di Kanal Macan
13.  Penabur Benih


Dalam menulis ceritanya, Iksaka Banu seringkali langsung menempatkan kita di situsi genting seperti yang disuguhkan dalam “Penabur Benih”, “Petunjuk Jalan”, dan “Selamat Tinggal Hindia”. Ketiga belas cerita pendek ini merupakan himpunan cerita petualangan, cerita detektif, kisah asmara, dan kisah horror. Iksaka Banu juha tidak menampilkan parodi terhadap historiografi. Walaupun bersandar pada fakta sejarah, fiksi tetaplah fiksi. Semua cerita yang ada di buku ini adalah imajinasi penulis semata yang diperkuat dengan latar peristiwa sejarah. Penulis merampungkan ketiga belas cerita pendek ini dengan menggambarkan sejarah dengan apik sehingga pembaca dapat membayangkan situasi saat peristiwa terjadi.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Puisi "Kerendahan Hati" Karya Taufik Ismail

Resensi Novel "Sekali Peristiwa di Banten Selatan" Karya Pramoedya Ananta Toer

Resensi Buku Kumpulan Puisi "Melipat Jarak" Karya Sapardi Djoko Damono