Resensi Cerpen "Perempuan Itu Bernama Lara" Karya A.A. Navis


            Perempuan Itu Bernama Lara merupakan salah satu cerita pendek karya A.A. Navis. Cerita ini termuat di buku kumpulan cerita pendek A.A. Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami.

            Cerita pendek ini mengisahkan Dali yang kembali bertemu dengan Lara di Bandara Kemayoran. Keduanya bersisih dan berbincang tanpa menyinggung masa lalu. Kemudian Lara pergi setelah terdengar suara panggilan penumpang jurusan Surabaya. Sebelum pergi, Dali menanyakan bisnis apa yang digeluti oleh Lara. Lara menjawab ia berdagang dirinya sendiri dengan suaranya yang datar. Setelah itu, ada penumpang tujuan Padang. Seperti pada cerpen sebelumnya, Dali kembali mengingat masa lalunya ketika ia menjadi seorang prajurit. Lara merupakan istri komandannya. Ketika itu, Lara kabur ke kota dan Dalilah yang ditugaskan untuk mencari Lara. Dali sering mengkhayal istri komandannya yang memang cantik dan bertubuh indah itu. Setelah lima hari, ia tak menemukan Lara. Ia hendak pulang dan akan melaporkan bahwa pencariannya gagal. Namun, saat tiba di sana tempat itu sudah porak poranda tanda habis diserang oleh musuh. Di sanalah ia menemukan Lara sedang duduk. Keduanya duduk bersama lalu Lara mengatakan bahwa suaminya lebih doyan dengan anak jawi (anak muda psangan laki-laki homo) dibanding dirinya. Lara muak digermoi merasa akan merana menjadi istri komandan yang kelak akan pengusaha kaya setelah memerdekakan Indonesia. Dia terang-terangan bahwa ia tertarik kepada Dali. Setelah itu, Dali memeluk Lara karena tersentuh hibah. Beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa komandan telah terbunuh saat perang. Cerita masa lalu Dali terhenti, ia sudah sampai di Bandara Tabing dengan pikirannya yang terbang mengawang. Cerita ini menarik karena megambil cerita dari pikiran masa lalu Dali tentang orang-orang yang ditemuinya bertahun-tahun kemudian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Puisi "Kerendahan Hati" Karya Taufik Ismail

Resensi Novel "Sekali Peristiwa di Banten Selatan" Karya Pramoedya Ananta Toer

Resensi Buku Kumpulan Puisi "Melipat Jarak" Karya Sapardi Djoko Damono