Resensi Puisi "Asmaradana" Karya Goenawan Mohamad
Asmaradana
Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa
hujan dari daun, karena
angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta
langkah pedati ketika
langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang
jauh. Tapi di
antara mereka berdua, tidak ada yang
berkata-kata.
Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia
melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak
semuanya disebutkan.
Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok pagi
pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke
utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba,
karena ia tak berani lagi.
Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan
wajahku,
kulupakan wajahmu
Puisi Asmaradana ini merupakan karya sastrawan terkemuda Indonesia,
Goenawan Soesatyo Mohamad. Ia lahir di Kabupaten Batang pada tanggal 29 Juli
1941. Goenawan Mohamad pernah mengenyam pendidikan di College of Europe dan
Universitas Indonesia.
Puisi ini merupakan transformasi dari tembang macapat Jawa yang berjudul
Asmaradana. Penciptaan puisi ini menandakan kekayaan wawasan penulis tentang
budaya Indonesia. Puisi ini menceritakan perpisahan antara Anjasmara dengan
Damar Wulan. Damar Wulan berpamitan kepada Anjasmara untuk berpergi perang yang
digambarkan sangat berbahaya. terdapat simbol dalam kalimat ‘ada tapak yang
menjauh ke utara’. Dalam kepercayaan Jawa, utara merupakan lambang
kematian karena orang Jawa, bila meninggal, dikubur dengan membujur ke utara.
Kisah
asmara Anjasmara dan Damar Wulan harus diputuskann dengan perpisahan yang
menyakitkan. Keduanya harus saling mencoba melupakan. Puisi ini tentu punya
pesan bahwa setiap pasangan di dunia ini pasti akan mengalami perpisahan oleh
takdir. Dan sebagai manusia kita harus selalu siap menerimanya karena takdir
pencipta tidak akan pernah bisa dihindari.
Komentar
Posting Komentar