Postingan

Resensi Buku Kumpulan Puisi "Bulu Matamu: Padang Ilalang" Karya Joko Pinurbo

Gambar
Judul               : Bulu Matamu : Padang Ilalang Pengarang       : Joko Pinurbo Penerbit           : DIVA Press Tahun terbit     : Oktober, 2019 Tebal               : 62 halaman             Bulu Matamu : Padang Ilalang merupakan buku kumpulan puisi karya Joko Pinurbo. Joko Pinurbo adalah seorang penulis yang lahir di Sukabumi, 1 Mei 1962. Ia tinggal di Yogyakarta. Joko Pinurbo sudah belajar sastra sejak ia duduk di bangku SMA. Ia mulai dikenal sebagai penyair setelah ia menerbitkan buku puisi berjudul Celana pada tahun 1999. Karyanya sudah banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Mandarin.       ...

Resensi Buku Kumpulan Puisi "Bahaya-Bahaya yang Indah" Karya Weslly Johannes

Gambar
Judul                 : Bahaya-Bahaya yang Menyedihkan Pengarang         : Weslly Johannes Penerbit             : PT Gramedia Tahun terbit       : 2019 Tebal                  : 112 halaman              Bahaya-Bahaya yang Menyedihkan merupakan buku kumpulan puisi karya Weslly Johannes. Ia adalah seorang penulis yang berasal dari Maluku. Puisinya pernah diterbitkan di dalam buku Biarkan Katong Bakalai, antalogi puisi penyair Maluku pada 2013. Salah satu cerita Weslly mengenai pengalaman menghadapi konflik kemanusiaan di Maluku juga diterbitkan di buku Carita Orang Basudara oleh Yayasan Paramadima. Buku puisi Bahaya-Bahaya yang Indonesia merupakan deb...

Resensi Puisi "Asmaradana" Karya Goenawan Mohamad

Asmaradana Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata. Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan. Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani lagi . Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu. Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu. Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku, kulupakan wajahmu Puisi Asmaradana ini merupakan karya sastrawan terkemuda Indonesia, Goenawan Soesatyo Mohamad. Ia lahir di Kabupaten Batang pada tanggal 29 Juli 1941. Goenawan Mohamad pernah mengenyam pendid...

Resensi Cerpen "Perempaun Pata Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi" Karya Eka Kurniawan

                         Cerita pendek Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi merupakan salah satu cerpen karya Eka Kurniawan. Eka Kurniawan memang terkenal dengan cerpen-cerpen buatannya. Cerpen ini pernah terbit di Koran Kompas Edisi 18 November 2012.             Dalam cerpen ini, diceritakan seorang perempuan bernama Maya yang ditinggal pergi oleh calon suaminya tepat di malam pernikahan. Kekasihnya itu memilih kabur dengan sahabat Maya dan meninggalkan sepucuk surat pengakuan. Keluarga Maya harus menanggung malu karena undangan memang sudah tersebar. Maya sempat mengiriskan pergelangan tangannya namun berhasil di bawa ke rumah sakit. Semenjak saat itu Maya terus diawasi oleh keluarga. Di masa pengobatannya, Maya mendapatkan mimpi bertemu seorang yang kelak menjadi kekasihnya. Mimpi itu datang lagi di malam berikutnya. Maya berpikit...

Resensi Cerpen "Sisa Badai di Sepasang Mata" Karya Puthut E.A.

Sisa Badai di Sepasang Mata merupakan salah satu cerita pendek karya Puthut E.A., ia adalah penulis Indonesia yang lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 28 Maret 1977. Cerita ini menggunakan sudut pandang orang pertama Aku. Di dalam cerita ini terdapat tiga tokoh yaitu Aku, Dia, dan seorang bapak-bapak. Menceritakan Aku yang pindah ke sebuah kampung. Di depan rumahnya barunya merupakan rumah yang pemiliknya jarang sekali keluar. Bahkan warga sekitar tidak menganggap pemilik rumah itu ada. Ia merupakan seorang laki-laki yang hanya keluar pada malam hari. Si Aku memperhatikan matanya seperti bukan mata orang hidup melainkan layaknya orang mati. Aku merasa diteror oleh sepasang mata itu. Suatu hari Aku pergi ke kota lalu bertemu seorang bapak-bapak berkumis putih yang ternyata warga desa yang ditempati oleh Aku. Bapak-bapak itu bercerita bahwa banyak warga di desa tersebut yang rela menjual tanah dan pohonnya untuk membeli kebutuhan seperti TV, sepeda motor, dan lain-lain. Se...

Resensi Cerpen "Perempuan Itu Bernama Lara" Karya A.A. Navis

            Perempuan Itu Bernama Lara merupakan salah satu cerita pendek karya A.A. Navis. Cerita ini termuat di buku kumpulan cerita pendek A.A. Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami.             Cerita pendek ini mengisahkan Dali yang kembali bertemu dengan Lara di Bandara Kemayoran. Keduanya bersisih dan berbincang tanpa menyinggung masa lalu. Kemudian Lara pergi setelah terdengar suara panggilan penumpang jurusan Surabaya. Sebelum pergi, Dali menanyakan bisnis apa yang digeluti oleh Lara. Lara menjawab ia berdagang dirinya sendiri dengan suaranya yang datar. Setelah itu, ada penumpang tujuan Padang. Seperti pada cerpen sebelumnya, Dali kembali mengingat masa lalunya ketika ia menjadi seorang prajurit. Lara merupakan istri komandannya. Ketika itu, Lara kabur ke kota dan Dalilah yang ditugaskan untuk mencari Lara. Dali sering mengkhayal istri komandannya yang memang cantik dan bertubuh indah ...

Resensi Cerpen "Gerimis yang Sederhana" Karya Eka Kurniawan

Gerimis yang sederhana merupakan salah satu cerpen karya Eka Kurniawan. Cerita pendek ini pernah terbit di majalah Kompas edisi Minggu, 16 Desember 2007.             Cerita ini mengisahkan orang Indonesia yang sedang tinggal di Amerika. Mei dikenalkan oleh sepupunya dengan Efendi. Mereka akan bertemu di Jack in the box. Sebelum turun dari mobilnya, Mei melihat Efendi dari luar restoran. Di dalam restoran tersebut mei melihat terdapat seorang pengemis. Efendi yang sedang menunggu Mei didalam restoran juga menyadari keberadaan pengemis tersebut. Pengemis itu mengadahkan tangannya kepada Efendi, Efendi pun menyerahkan beberapa koin kepadanya yang ia punya disakunya. Setelah bertemu Efendi, Mei mengajaknya memutari kota. Efendi bercerita tentang pengemis di restoran kepada mei. Ia mengajak mei untuk mencari pengemis tersebut. Ternyata cincin kawin yang ia taruh disaku ikut terbawa dengan koin yang ia kasih ke pengemis tadi. Mei ...